Poltekkes Kemenkes Kupang Prodi DIII Keperawatan Waingapu [email protected]

RESPIRATORY NURSING CAMP 2026 PERKUAT KOMPETENSI MAHASISWA KEPERAWATAN HADAPI KEGAWATDARURATAN RESPIRASI

30 Sep 2026
08:00 WIT

Program Studi D-III Keperawatan Waingapu, Poltekkes Kemenkes Kupang, menyelenggarakan Respiratory Nursing Camp 2026 bertema “Strengthening Respiratory Nursing Competence Through Integrated Learning, Simulation, and Emergency Response” pada tanggal 30 September–1 Oktober 2026 di Pantai Wisata Londa Lima, Desa Kuta, Kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan yang diikuti 145 mahasiswa Tingkat III (Semester 5) ini dirancang untuk memperkuat kompetensi mahasiswa dalam menghadapi kegawatdaruratan respirasi. Kegiatan dibiayai melalui DIPA Poltekkes Kemenkes Kupang Tahun Anggaran 2026 dan untuk pertama kalinya dilaksanakan oleh Program Studi D-III Keperawatan Waingapu.

Respiratory Nursing Camp 2026 mengintegrasikan pembelajaran melalui workshop, diskusi kasus, demonstrasi, micro-skill practice, simulasi kegawatdaruratan, komunikasi, team response, dan debriefing. Pembelajaran diarahkan agar mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi mampu melakukan respiratory assessment, mengenali tanda kegawatan, menentukan prioritas, memberikan respons awal sesuai kompetensi, melakukan monitoring, serta bekerja efektif dalam tim.

Ketua Panitia, Melkisedek Landi, S.Kep., Ns., M.Med.Ed., menjelaskan bahwa kegiatan bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, clinical reasoning, komunikasi, teamwork, dan kesiapan mahasiswa menghadapi pasien dengan gangguan respirasi dan kegawatdaruratan paru.

Kegiatan ini juga mengintegrasikan mata kuliah Asuhan Keperawatan Paru dan Praktik Asuhan Keperawatan Paru sebagai mata kuliah penciri Sentra Unggulan Poltekkes Kupang, Keperawatan Gawat Darurat, serta Penanggulangan Krisis Kesehatan dan Bencana. Integrasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman belajar yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan keterampilan klinik, pengambilan keputusan, komunikasi, dan respons terhadap kondisi kegawatdaruratan.

Hari Pertama: Memperkuat Fondasi Pengetahuan dan Kesiapan Klinis

Kegiatan hari pertama, Rabu, 30 September 2026, diawali dengan pembukaan oleh Ketua Program Studi D-III Keperawatan Waingapu, Yosephina Elizabeth Gunawan, S.Kep., Ns., M.Kep.

Dalam arahannya, Ketua Program Studi berharap mahasiswa mengembangkan kemampuan belajar yang aplikatif dan berorientasi pada kesiapan praktik klinik, khususnya dalam assessment, tindakan awal, clinical decision-making, dan teamwork. Ia juga berharap kegiatan ini dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahun sehingga seluruh mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang sama.

Hari pertama diarahkan untuk membangun pemahaman dan kesiapan mahasiswa sebelum memasuki tahapan latihan keterampilan dan simulasi. Kegiatan menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dr. Ridlwan Kamaluddin, S.Kep., Ners., M.Kep.; dr. Anry Widiarti, Sp.P.; dan Yafet Geu, SST, M.Tr.Kep.

Materi yang diberikan meliputi gangguan respirasi, respiratory distress dan respiratory failure, kegawatdaruratan paru, respiratory assessment, airway-breathing management, terapi oksigen, monitoring, hingga dukungan ventilasi menggunakan bag-valve-mask.

Pembelajaran dilaksanakan melalui kuliah pakar, diskusi interaktif, studi kasus, demonstrasi, dan micro-skill practice. Melalui rangkaian tersebut, mahasiswa diarahkan untuk memahami bagaimana mengenali perubahan kondisi pasien, melakukan pengkajian secara sistematis, menentukan prioritas masalah, serta mempersiapkan respons keperawatan yang sesuai dengan kondisi kegawatdaruratan.

Pelaksanaan kegiatan di alam terbuka memberikan pengalaman belajar yang aktif, kontekstual, menantang, dan berkesan melalui pendekatan Outcome-Based Education (OBE). Lingkungan belajar yang berbeda dari ruang kelas memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengalami proses pembelajaran secara lebih dinamis, sekaligus mendorong keterlibatan aktif, komunikasi, kolaborasi, dan penerapan pengetahuan dalam konteks yang lebih nyata.

Salah satu mahasiswa sebagai peserta kegiatan, menyampaikan kesannya terhadap pengalaman belajar tersebut.

“Belajar di alam terbuka membuat kami merasakan pengalaman yang berbeda. Kami tidak hanya mendengarkan materi, tetapi langsung berlatih, bekerja dalam tim, dan belajar mengambil keputusan dalam situasi kegawatdaruratan.”

Antusiasme mahasiswa juga mendapat apresiasi dari narasumber Dr. Ridlwan Kamaluddin. Ia mengapresiasi mahasiswa yang dinilai aktif, bersemangat, dan terbuka untuk berkolaborasi. Menurutnya, semangat tersebut menunjukkan kesiapan mahasiswa untuk belajar, bekerja dalam tim, dan mengembangkan keterampilan menghadapi kegawatdaruratan respirasi.

Rangkaian pembelajaran hari pertama menjadi fondasi bagi kegiatan hari kedua, ketika mahasiswa tidak hanya dituntut memahami konsep, tetapi juga menerapkan pengetahuan dan keterampilan tersebut melalui latihan terarah dan simulasi kegawatdaruratan.


Hari Kedua: Mengasah Keterampilan dan Respons Kegawatdaruratan Respirasi

Kegiatan berlanjut pada Kamis, 1 Oktober 2026, dengan fokus “Emergency Nursing Response, Ventilation Support & Integrated Simulation”. Pada tahap ini, mahasiswa diarahkan untuk mengembangkan kemampuan merespons kegawatdaruratan respirasi secara tepat, baik di fasilitas pelayanan kesehatan, di tengah masyarakat, maupun dalam situasi krisis dan bencana.

Kegiatan hari kedua diawali dengan review materi hari pertama yang dipandu oleh Dr. Ridlwan Kamaluddin, S.Kep., Ners., M.Kep., melalui tanya jawab interaktif. Sesi ini menjadi jembatan antara pengetahuan yang telah diperoleh pada hari pertama dengan keterampilan yang akan diterapkan dalam guided practice dan simulasi.

Selanjutnya, peserta mengikuti tiga workshop keterampilan, yaitu suction dan basic airway care, dukungan ventilasi dengan bag-valve-mask (BVM), serta respiratory emergency nursing response dengan pendekatan ABCDE. Kegiatan dilaksanakan melalui demonstrasi dan guided practice bersama narasumber dan fasilitator.

Melalui proses tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengembangkan keterampilan secara bertahap. Mereka tidak hanya melihat demonstrasi tindakan, tetapi juga berlatih melakukan keterampilan, menerima arahan, mengidentifikasi kesalahan, dan memperbaiki teknik sebelum memasuki simulasi yang lebih kompleks.

Keterampilan peserta selanjutnya diuji melalui tiga simulasi terstruktur yang dikelola oleh tim simulasi, yaitu Acute Respiratory Distress, Airway Emergency & Ventilation Support, dan Integrated Respiratory Emergency.

Suasana simulasi dibuat lebih nyata ketika mahasiswa berhadapan langsung dengan pasien simulasi yang telah dipersiapkan menggunakan make-up luka menyerupai kondisi cedera ataupun luka pasien sesungguhnya. Tampilan luka dan kondisi pasien yang dibuat realistis membantu mahasiswa merasakan situasi kegawatdaruratan secara lebih konkret, bukan sekadar membayangkan berdasarkan skenario.

Dalam situasi tersebut, mahasiswa dituntut untuk tetap tenang, melakukan pengkajian secara sistematis, mengenali tanda-tanda kegawatdaruratan, menentukan prioritas tindakan, serta berkomunikasi dan berkolaborasi dengan anggota tim secara tepat. Pengalaman ini menjadikan proses simulasi lebih kontekstual dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan serta keterampilan keperawatan dalam suasana yang mendekati kondisi klinis nyata.

Simulasi terakhir mengintegrasikan seluruh kompetensi dalam satu skenario baru yang menuntut komunikasi, pembagian peran, dan pengambilan keputusan cepat sebagai tim. Pada tahap ini, mahasiswa tidak hanya dinilai berdasarkan kemampuan melakukan tindakan individual, tetapi juga berdasarkan kemampuan mengintegrasikan clinical reasoning, komunikasi, koordinasi, teamwork, dan patient safety dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan.

Setelah simulasi, mahasiswa mengikuti sesi debriefing dan refleksi yang dipandu oleh Dr. Ridlwan bersama para fasilitator. Sesi ini menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran karena mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengevaluasi clinical reasoning, ketepatan tindakan, teamwork, dan patient safety, sekaligus merumuskan bagian-bagian yang masih perlu diperbaiki.

Dengan demikian, proses pembelajaran tidak berhenti pada pelaksanaan tindakan, tetapi dilanjutkan dengan refleksi terhadap proses berpikir, pengambilan keputusan, komunikasi, dan kerja sama tim. Capaian belajar kemudian diukur melalui post-test dan evaluasi.

Ketua Panitia, Melkisedek Landi, S.Kep., Ns., M.Med.Ed., menjelaskan bahwa pembelajaran dirancang bertahap, mulai dari workshop, simulasi, hingga debriefing, karena keterampilan tidak cukup dipahami, tetapi harus dilatih berulang dan dievaluasi agar kemampuan mahasiswa meningkat secara nyata.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber, fasilitator, dan panitia atas terlaksananya kegiatan perdana Respiratory Nursing Camp 2026.

Pada sesi penyampaian hasil dan pesan tindak lanjut, Dr. Ridlwan Kamaluddin kembali mengapresiasi antusiasme mahasiswa yang aktif, bersemangat, dan terbuka untuk berkolaborasi. Menurutnya, semangat tersebut menunjukkan kesiapan mahasiswa untuk terus melatih dan mengembangkan keterampilan menghadapi kegawatdaruratan respirasi.

Pengalaman mengikuti rangkaian kegiatan selama dua hari juga memberikan dampak pada rasa percaya diri mahasiswa. Juniferd Hanggawali, salah satu peserta, mengaku lebih percaya diri setelah mengikuti kegiatan ini.

“Setelah berlatih langsung dan menerima masukan saat debriefing, kami tahu bagian mana yang sudah baik dan mana yang harus diperbaiki. Keterampilan ini bisa kami bawa ke mana pun dibutuhkan.”

Membangun Kesiapan, Kolaborasi, dan Keselamatan Pasien

Rangkaian Respiratory Nursing Camp 2026 ditutup oleh Ketua Program Studi D-III Keperawatan Waingapu, Yosephina Elizabeth Sumartini Gunawan, S.Kep., Ns., M.Kep. Ia berpesan agar mahasiswa terus melatih keterampilan yang diperoleh dan mengutamakan keselamatan dalam setiap situasi pelayanan.

“Dengan mengucap syukur kepada Tuhan, Respiratory Nursing Camp 2026 secara resmi saya nyatakan ditutup.”

Selama dua hari pelaksanaan, kegiatan tidak hanya menjadi ruang pembelajaran untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga menjadi pengalaman untuk membangun clinical reasoning, komunikasi efektif, kolaborasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan kesadaran terhadap patient safety.

Melalui pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan workshop, demonstrasi, micro-skill practice, simulasi, team response, serta debriefing, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menghubungkan teori dengan praktik dan mengembangkan kemampuan secara bertahap dari memahami, mencoba, menerapkan, hingga mengevaluasi tindakan.

Pelaksanaan kegiatan di alam terbuka melalui pendekatan Outcome-Based Education (OBE) juga memberikan pengalaman belajar yang aktif, kontekstual, menantang, dan berkesan. Pengalaman tersebut memperluas ruang belajar mahasiswa bahwa kompetensi keperawatan tidak hanya dibangun melalui pemahaman teori, tetapi melalui pengalaman langsung, latihan keterampilan, kemampuan beradaptasi, komunikasi, kerja sama, serta refleksi terhadap tindakan yang dilakukan.

Melalui kegiatan ini, Program Studi D-III Keperawatan Waingapu berharap mahasiswa semakin siap mengenali kegawatdaruratan respirasi secara dini, melakukan pengkajian dan tindakan sesuai prioritas, berkomunikasi efektif, bekerja dalam tim, serta mengutamakan keselamatan pasien dalam praktik keperawatan.

Program Studi juga berharap Respiratory Nursing Camp dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahun sehingga seluruh mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang sama dan memiliki kesempatan untuk terus mengembangkan kompetensi dalam menghadapi kegawatdaruratan respirasi.

Dengan demikian, Respiratory Nursing Camp 2026 menjadi bagian dari upaya pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan akademik, keterampilan klinik, clinical reasoning, komunikasi, kolaborasi, dan patient safety dalam satu pengalaman belajar yang terintegrasi sebagai bekal mahasiswa keperawatan untuk menghadapi kebutuhan pelayanan kesehatan yang dinamis dan kondisi kegawatdaruratan yang membutuhkan respons cepat, tepat, dan terkoordinasi.